A Story of 2012



Abu-Abu Lembah
Lompo’battang
Layaknya suatu desa terpencil, aktivitas penduduk di kecamatan ini masih tergolong normal. Masih jauh dari hiruk pikuk dan riuh gemuruh bunyi kendaraan di waktu pagi. Kecuali ketika hari pasar, kendaraan banyak yang asal parkir saja. Akibatnya jalanan jadi macet, bahkan hingga puluhan menit.
Asty, seorang siswa SMA lembah Lompo’battang, sesampai di sekolah seperti biasa ia langsung duduk di kursi pilihannnya, depan pojok kiri kelas, setelah tas merah jambu kesayangannya ia letakkan di dek mejanya. Kebiasaannya tidak banyak bercengkrama dengan teman-teman kelasnya. Sangat sedikit ia tersenyum. Atau sekalian tertawa yang tertahan.
“Asty, lagi ngelamun yah?” Sapa Tia seketika.
“Ah! Ehmm...ah nggak! Masa sih sepagi ini aku udah ngelamun?” Jawab Asty kelihatan kikuk.
“Ah, yang benaar…? Kalau nggak ngelamun, ngapain pakai kaget segala’? Tuh pipinya merah.., lagi mikirin apa siih…?” Goda Tia yang membuat Asty makin salah tingkah.
“Ah, Enggak deh! Cuman aku sedikit bingung. Aku sering ngerasa ada yang aneh sama Pak Chan.” Jawab Asty mulai terus terang. “Sering banget aku ngerasa dikerjain olehnya?! Yah… enggak kenapa-kenapa sih, tapi dari caranya mengabsen, menulis nilai harian, plus canda-candanya, n’ pokoknya banyak deh! Aku jadi heran, apa sih maksudnya itu Pak?” Lanjut Asty kelihatan bingung.
“Serius nih…, jangan-jangan tuh Pak, ada hati deh sama kamu…hahaha…?” Goda Tia lagi sambil tertawa.
“Waduh…!? Kamu ini, tahunya ngeledek terus! Tolong dong bantu cari tahu kek, jangan cuman tahunya nertawain aja!” Jawab Asty sedikit kesal dengan ledekan Tia.
“Iya deh…terang sih…, mungkin saja itu benar. Maklum di sekolah kita ini yang sudah 12 tahunan, orang udah banyak kenal. Mulai dari cerita baik-baiknya sampai paaaling buruknya! Nah, siapa tahu kamu selanjutnya akan jadi bintangnya? Hehehe…” Ledeknya lagi.
“Aaa...ah! Kau ini, ngeledekin melulu!” Jawab Asty menimpali.
“Non…sabar Non…. Apa kamu nggak tahu? Banyak kan cerita miring mengenai sekolah kita? Sekecamatan sini juga udah pada tahu. Saya sih ingatin kamu aja, jangan sampai itu juga terjadi sama kamu.Tapi jangan salah deh, saya berharap itu takkan berlanjut lagi.” Terang Tia yang membuat Asty jadi malah semakin bingung.
“Apaan sih maksud kamu Ti’? Aku jadi tak ngerti!?” Tanya Asty dengan nada tinggi.
“Gini deh, mudah-mudahan ini nggak benar. But let me tell you. Okey?” Lanjut Tia yang mulai serius membantu Asty
Okey. I do hope it’ll be clearly!” Jawab Asty tak sabaran.
“Gini sayang…”
“Aaaa…ah! Kamu ini! Cepetan…!”Pintah Asty dengan geram.
“Ok..ok..Eeee…mulai dari mana yah? Sorry, aku agak lupa! Emmm…Ok! Kita kan udah sering dengar, di sekolah kita ini sering banget terjadi ‘affair’. Yaah…entah itu melibatkan siswa(i) sendiri, guru dengan guru, atau yang paling ‘ekstrem’ yaa…siswa-guru!?” Jelas Tia serius. “Coba Asty bayangin, siapa sih yang tak ngerasa malu jika hal itu terulang lagi? Iiih…amit-amit deh! Masa sih kita sudah tinggal di kampung tambah kampungan lagi gara-gara cerita-cerita memalukan itu?” Lanjut Tia menegaskan.
“Yah…iya sih, tapi… jujur aja nih, aku tuh ngerasa tidak sejauh itu Ti. Tapi yaah… emang sih aku salut sama itu Pak dari pendekatannya ke kita-kita. Yaa…”Jawab Asty agak ragu.
“Ehmm… Got you girl!”Serobot Tia membuat Asty kaget. “I’ve guest about you!”Lanjut Tia dengan gaya ‘bule’nya.
Uuh…shit..!! You’re putting me on, Ti’!? Aren’t you? Don’t let me down, please…”Gerutu Asty kesal.
Uh…Sorry, sorry…girl. You’re my best friend in mylife. Sorry...”Pintah Tia bertubi-tubi. “But I don’t want you get in trouble, my girl. I really hope it won’t happen to you, really!” Lanjut Tia serius, setelah tahu Asty agak kecewa dengan sikapnya.
Ooh…Thank you, my girl . I don’t mean it, really. I just can’t understand why it goes through on me.” Jawab Asty legah. Ia merasa ternyata masih punya sahabat yang sangat care padanya.
Ia sangat memahami tujuan hidupnya datang ke sekolah ini. Ia juga tahu segalanya mungkin saja terjadi. Jika suatu keinginan tanpa disertai dengan kesadaran dari lubuk hati yang paling dalam, tentu itu bisa saja menggelincirkannya ke hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Angan-angan yang ia lekatkan di pundaknya masih begitu hijau untuk diwujudkan ditambah lagi dengan Pak Chan yang ia tahu sebagai orang tuanya sendiri di sekolah. Sungguh suatu kecerobohan dan angan-angan utopia yang tak beralasan baginya.
Asty tak pernah tahu, ada apa hingga ia harus masuk di sekolah ini. Yang ia tahu, ia lahir dan dibesarkan di daerah ini, mungkin itu juga sebagai alasan ia sekolah di sini.
“Emmm…Ti’ maafin aku dong…Aku sama sekali tak bermaksud membencimu. Sungguh! Sorry yah…” Lanjut Asty setelah ia sadar Tia kelihatan merasa bersalah padanya.
“Sama-sama As. A good friend is a friend indeed.” Jawab Tia legah.
“Ehmm…I think so..”
“Aah…Pak” Kata Tia seketika mencegat Pak Chan hingga langkahnya terhenti. “Pak gimana ini dong Pak. Homework kami Pak. Eeee…maksudnya PR kami belum kelar semua.” Lanjut Tia bertanya kepada Pak Chan dengan nada seperti diburu begitu Pak Chan masuk ke kelas.
Asty kelihatan agak kikuk. “Mmm…Pak Chan lagi..Pak Chan lagi!” Gerutu Asty dalam hati.
Dalam hati Asty berkecamuk, apakah benar-benar telah salah menilai Bapak ini. Sejak ia duduk di kelasnya, ia begitu tak sadar akan banyak diperhatikan olehnya. Dua kali pertemuan dalam seminggu kadang benar-benar memuakkan baginya. Sebagai gadis remaja, ia sangat sadar jika suatu perhatian agak berbeda yang ia terima dari Bapak ini. Walhasil ia hanya berharap, semoga itu tak disadari oleh teman-teman sekelasnya. Terkecuali Tia, sahabat dekatnya.
“Pak, saya juga belum. Anu.. Pak, saya belum pindahkan dari buku catatan draf saya. Ini Pak.” Kata Asty pada Pak Chan agak ragu sambil menyodorkan tugasnya.
Tia yang berada di sampingnya, hanya sedikit tersenyum melihat tingkahnya.  Tia cukup maklum dengan apa yang ia saksikan pada closedfriend-nya ini.
“Ehmm…coba saya liat.” Jawab Pak Chan dengan gayanya yang Asty tahu akan seperti itu lagi.
“Pak, saya juga Pak.” Teriak teman-temannya yang lain satu kelas.
“Pak bagaimana dengan pekerjaan saya Pak.” “Pak, saya juga Pak” Tanya Bea si ketos (ketua osis) dan Imah hampir bersamaan.
Lagi-lagi Pak Chan beralih perhatian. Sementara pekerjaan Asty sedari tadi disodorkan belum juga dikoreksi.
“Aaa..Bea dan kamu, Imah, ini karyanya sendiri kan?” Tanya Pak Chan.
“Iya Pak. Udah benar kan Pak?” Tanya balik mereka.
“Iya…Tapi nanti tolong dipindahkan yah? Tugas kalian tulis di kertas kwarto, A4 atau legal. Aaa…dengarkan semua! Tolong…” Lanjut Pak Chan sambil menghimbau semua siswa agar pekerjaannya ditulis di kertas kwarto.
“Iya… Pak…” Jawab siswa serempak.
 “Ok.” “Aaa… As? Sampai di mana tadi?” Tanya Pak Chan kembali ke Asty yang secara diam-diam telah membawa kembali tugasnya ke mejanya tanpa diketahui oleh Pak Chan.
“Iya Pak. Ini!” Jawab Asty sedikit kesal dengan sikap Pak Chan sembari menyodorkan tugasnya kembali.
Hmm…Ini karyanya sendiri kan?” Tanya Pak Chan.
“Iya Pak” Jawab Asty.
“Hmm…besok saja distor yah. Terahir besok. Atau …kalau tidak bisa Kamu saja yang disetor…hmm..” Goda Pak Chan tersenyum.
Asty terdiam. “Hmm…itu lagi” Pikirnya dalam hati. Asty hanya mengalihkan pandangannya. “Iya Pak. Saya usahakan.” Jawab Asty singkat.
“Anak-anak.” Tegur Pak Chan kepada semua siswa.
Vertical Scroll: Jika kamu tak mampu mencurahkan setetes air untuk kehidupan di bumi, maka teteskanlah tinta penamu untuk menjadi bahan inspirasi bagi orang-orang terdekatmu “Tulisannya saya harap besok semua sudah selesai yah?” Lanjut Pak Chan menghimbau. “Tapi saya tidak terima kalau hasil contekan alias palagiat. Tugas menulis diberikan kepada kalian agar kalian belajar membuat tulisan sendiri. Sebagus apapun hasilnya kalau hanya contekan, itu tidak akan memberikan pelajaran yang berarti bagi kalian. Bagaimana pun caranya Insyaallah, saya tahu. Satu tahun kebersamaan kita di kelas ini, itu sudah cukup buat saya untuk tahu kemampuannya menulis.” Lanjut Pak Chan lagi yang membuat siswa kelihatan bosan dengan wejangannya.
“Baik, anak-anak. Kalau ada yang belum selesai besok, setelahnya dikenakan nilai minus alias denda penguarangan nilai dan itu terserah saya.” Tegas Pak Chan lagi.
“Maksudnya Pak?”Tanya Miah yang sedikit lamblod (lambat loading).
“Hmm..maksudnya…kalau kamu menyetor tugas sehari setelah hari besok berarti nilainya tidak sama lagi dengan yang menyetor hari ini dan besok. Artinya, hari ketiga setelah hari ini, nilainya akan berkurang dan saya sendiri yang tahu berapa kurangnya. Understand..?” Jelas Pak Chan lagi.
“Kalau sebentar sore Pak?” Tanya Miah memperjelas.
“Ya..ya.. sama saja dengan hari ini kan?”
“Hehehe…iya Pak. Terimakasih”
Pak Chan kemudian meninggalkan ruang kelas dua ipa satu. Ia menutup kelasnya dengan meninggalkan kesan kurang bersahabat pagi itu. Sementara Asty kelihatan tidak peduli lagi dengan apa yang dipertanyakan temannya. Ia kelihatan begitu serius melengkapi ceritanya yang telah diperiksakan.
Lain halnya dengan Syam, Iyan, Resty dan Mirah, mereka telah lebih dulu menyetor tugasnya pagi itu juga.
Pak Chan hanya sedikit terseyum sambil melengkah keluar ruangan. Terbesit dalam hatinya pertanyaan ada apa sebenarnya memperlakukan kelas itu lain dari yang lain. Kalau memang ia senang dengan salah satu siswanya itu pasti sudah terlambat. Suatu kekeliruan besar baginya. Predikat guru yang ia sandang, membatasinya dengan pikiran-pikiran negative itu. Begitu besar tanggung jawab harus ia jaga. Dunia memang sudah sejauh ini mengalami banyak perubahan. Tapi semua itu karena manusianya sendiri yang membuatnya demikian.
Manusia dapat saja dipuja dan dipuji karena prestasi dan kebanggaan yang ia usahakan. Tapi bukan berarti akan kekal. Dalam sekejab mata bisa saja berubah jadi bagaikan bola api yang akan membakarnya sendiri. Yaah…dunia memang sudah demikian. There is a will there is a way, but take care of it! Seeyah!
This story is dedicated to my beloved students of II Exact 1 of SMAN 1 Tompobulu.
 Go Youth Go…!

               

Komentar